Skip to main content

Posts

Showing posts with the label PUISI

Kumpulan motivasi dan inspirasi

Dulu istilah aku kecil dan aku besar itu terbaca dari bukunya Emha Ainun Nadjib. Manusia dan tuhan begitulah kira- kira interpretasinya. Motivasi Hidup Kalaupum Emha mau bilang ada cahaya tuhan dalam diri kita, keknya sah-sah saja. Karena ga ada yang bingung mana salah mana yang benar. Semua orang tahu, meski ga dikasih tahu. Cahaya itu pan petunjuk bukan melulu musti bakar-bakaran biar bercahaya. Yang doyan bakar-bakaran mah iblis.   Dulu iblis itu cahaya, percaya ga? Nich ada buktinya dibawah Salah iblis sendiri pake berani komplen ama tuhan, so teu lagi jadi peramal kalo manusia dibrojolkan bakal menumpahkan darah. Jangan-jangan dalil   ucapan itu doa  awalnya dari iblis? Terbukti kan?  manusia doyan perang sampai berjilid-jilid. Iblis sudah kadung dihukum.   Ga ada PK klo tuhan berkehendak. Hanya saja tuhan memang maha pengasih dan penyayang tiada bandingnya. Jadi biarpun iblis mantan raja malaikat, emoh sujud sama adam, toh ramalannya tentang manusia o...

Hadiah Persahabatan

Pepatah Tiongkok mengatakan, mempunyai sahabat seribu saja terlalu sedikit namun mempunyai musuh satu saja terlalu banyak. Manusia adalah makhluk sosial, kata Aristoteles, filsuf yang hidup 384- 322 sebelum masehi. Sudah sedemikian lama manusia mengenal dirinya sebagai makhluk sosial.  Mungkin sudah pada lupa hingga diingatkan lagi oleh Kamus Besar Bahasa Indosia( KBBI), bahwa makhluk sosial adalah manusia yang berhubungan timbal balik dengan manusia lain.     Persahabatan Dalam Politik Bukan kebetulan tulisan ini digali lagi dari kuburan blog tahun 2016 bertepatan dengan bebasnya seorang tokoh politik kawakan yang dibesarkan Himpunan Mahasiswa Islam( HMI) dari Lapas Sukamiskin, Anas Urbaningrum.  Begitu serunya ingatan kita ketika mengikuti persidangannya dulu. Satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas, begitulah katanya, ketika dia masih jadi ketua umum partai Demokrat dan mulai terseret korupsi di Hambalang.    Kariernya yang se...

Aku Lelah Mengejar Cinta, Puisi Mantra Cinta

Mantra kaya dengan gaya bahasa metafora dan hiperbola. Dalam agama hindu lebih merupakan doa. Mantra di kepala kita adalah kata-kata yang bisa merubah sesuatu secara gaib atau tidak biasa. Mantra merupakan kekayaan sastra yang dikenal sebagai puisi lama. Apa hubungannya puisi yang sering dipakai merayu ini dengan mantra yang lebih merupakan doa? Dinasti Puisi Bila puisi dikaitkan erat dengan sejarah puisi lamanya, kemungkinan puisi tidak bernasib "kesepian" seperti sekarang ini. Mantra memang berisi kata-kata yang kadang tidak berarti. Namun diucapkan oleh  orang tertentu, karena mantra merupakan  kalimat yang mengandung kekuatan gaib atau magis. Puisi oleh karena dinasti mantra seyogyanya punya khasiat yang sama. Paling tidak, bisa mengobarkan semangat seperti pidato Bung karno. Tapi apa mau dikata puisi telah bebas disampaikan dengan kalimat yang berisi kata-kata apa saja.  Kalau kemudian terjerembab dalam wilayah curhat atau kalimat cengeng yang baru saja putus ...

Musafir Dusta, Puisi Jati Diri

Kalau percaya dibumi ini segalanya berpasangan, maka kepercayaan alami ini mampu bicara banyak. Terutama soal pentingnya mengendalikan diri. Kalau pemarah tentunya ada pilihan menjadi penyabar. Takarannya pasti sama. Tinggal mau pilih yang mana, kita diberi kekuasaan penuh untuk memilih.  Ini tersurat dalam kitab suci. Hukum Kausalitas Setelah itu kita juga tahu ada hukum kausalitas. Hukum yang menghubungkan sebab dan akibat dari satu, dua atau lebih dalam peristiwa sejarah. Sederhananya kalau ada akibat tentu saja karena ada sebab. Kata peribahasa "tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api". Dan sejarah terkait erat dengan pelaku sejarah, seorang pribadi, aku kecil, yang tidak mungkin terlepas dari hukum sebab akibat. Disinilah sebenarnya drama kehidupan itu terjadi. Ketika seseorang melakukan sesuatu dia sebenarnya tahu apa yang akan terjadi kemudian. Siap atau tidak dia akan menghadapi itu. Keyakinan tidak ujug-ujug stabil, tapi mengalami proses panjang seperti halny...

Musafir Mimpi

Entah episode ke berapa film animasi avatar botak pernah bertema tentang dasyatnya kekuatan disaat posisi kita netral. Pasrah sebuah kata yang jelas konotatif dengan tak berdaya. Tapi kondisi netral seperti itu bisa meluluh lantakan kekuatan gusar. Itu kekuatan planet kita. Lihat bagaimana bumi menaklukan petir yang mengandung sekian mega volt kekuatan listrik. Hanya perlu seujung tembaga di atas rumah, lalu sejuntai kabel yang dimasukan ke dalam tanah. Maka kedigjayaan petir reda diserap bumi. Kita masih menganggap pasrah itu kalah, padahal mujizat para rosul menjelma karena pasrah. Ketika kata tak lagi bermakna ketika tindakkan tidak laku, maka kebenaran seperti keluar dari hukum kausalitas. Hukum sebab akibat yang jelas-jelas membuktikan adanya sang pengawas. Pembawa kebenaran hampir menjelma layaknya pemain sulap, membelah laut, tak mempan dibakar dan lain sebagainya. Tapi yang jelas mujizat tak bisa diobral begitu saja. Apalagi jadi komoditi yang bisa diperjualbelikan....

Cinta Dalam Laut

Agak sulit berbicara makna cinta sekarang ini. Perkembangan teknologi belum bisa disiasati agar kita tetap mengerti bahwa ada nilai-nilai luhur yang harus tetap kita jaga di area ini. Lahirnya LGBT tak bisa dilepaskan dari perilaku kita sendiri yang sudah lalai terhadap nilai-nilai hubungan manusia. Kalau urusan tempat tidur sudah bisa ditonton gratisan, bagaimana mungkin kita bisa berbicara makna cinta. Nafsu jadi lebih besar artinya ketimbang cinta itu sendiri. Sejak awal keduanya memang tak bisa dipisahkan. Kalau kemudian ada implikasi yang tidak wajar tentu karena koridornya sudah terlanggar. Sesuatu yang diobral secara vulgar ternyata seringkali menghilangkan ruh dan maknanya sekaligus. Begitupun dengan urusan cinta. Para leluhur kita bahkan membungkusnya dengan pantun atau dalam masyarakat sunda disebut sisindiran. Mereka sadar urusan di wilayah ini sangat tabu untuk ditelanjangi. Pantun dan sisindiran merupakan moyangnya puisi. Yang dulu sebagai salah satu garda terdepan untuk...

Maha Cinta

Bagaimana kalau sandiwara kehidupan dunia ini ternyata melulu sebuah gerakan cinta? Bagaimana kalau semua bencana di bumi kita ini dilakukan dengan cinta?  Bukankah yang meninggal karena bencana itu masuk surga?  Gerakan Cinta Lalu mengapa kita puas kalau bencana itu dijatuhkan ke tempat yang kita sebut tempat maksiat?  Dengan garang kita sepakat mengatakan kalau itu azab. Kalau semua kehidupan ini gerakan cinta mengapa kita sejahat itu menghakimi setiap kejadian sesuai dengan keinginan kita? Sudah jadi milik kita sendiri kah kebenaran itu ? Atau kita memang harus seperti binatang dulu,  setelah kebelet nafsu lalu tumpah, baru bisa membedakan, mana nafsu mana cinta? Ah, mungkin cinta dan nafsu dalam labirin yang sama. Cinta menurut Paul Johannes Tillich seorang teolog Jerman Amerika, merupakan suatu hal yang berkuasa. Cinta layaknya sebuah motor utama yang menggerakkan roda kehidupan nyata. Biar keren aja kan, bawa-bawa teolog bule. Padahal udah nongol dal...

Kepastian yang Purba

Kiamat kepercayaan yang purba. Atau ada yang berani mengatakan kiamat yang dimaksud bukanlah kehancuran alam semesta?    Yang merasa janggal kalau kiamat seperti ini diancamkan agama yang notabene tahu peresis rahman dan rahimnya Alloh swt. Tuhan semesta alam. Apa ga sayang alam semesta yang dibangun miliyaran tahun ini diluluhlantakkan? Kabarnya cerita wayang Bharatayuda  kita juga tidak sedang menceritakan perang seperti perang dunia 1 dan 2, yang yang sudah menelan korban 40 dan 50-70 juta jiwa sipil dan militer.   Jadi ingat obrolan kanjeng rosul yang bikin terperangah para sahabatnya. Kata kanjeng rosul sepulang dari perang badar yang dasyat itu, kita baru saja pulang dari perang kecil. Perang yang besar adalah perang melawan diri sendiri. Masa kurang ampuh? Perang besar itu pan bisa dirasakan sendiri? Atau kita sudah berhenti berperang dan merasa menang? Hati-hati perang besar yang satu itu susah dimenangkan.  Lihat saja peperangan yang nyata di bumi ...

Insomnia 4

Dulu selama ribuan tahun dipercaya, bumi yang jadi pusat tata surya.  Ga tanggung-tanggung yang mengembangkan teori geosentris ini adalah filsuf papan atas yang namanya terbawa angin mamiri dipasol sampai ke Indonesia, yakni  Ptolemaeus dan Aristoteles. Mungkin Mataharilah yang kita lihat seperti bergerak, makanya terbit dari timur dan tenggelam di barat. Padahal bumi tempat kita berpijak yang berputar pada porosnya hingga setiap hari kitalah yang menyongsong matahari.  Tapi teori geosentris ini  bisa jadi bukan sekedar jejak sains yang empiris . Ribuan tahun meyakini hal keliru bukan soal manusia bernafsu memelihara kebodohan. Tapi ada sesuatu yang lebih penting untuk dikedepankan. Lha, kok jadi berkalimat politik ya? Kegelapan selalu mencari cahaya. Jadi bumi yang gelap bergerak mencari cahaya. Ini hukum alam semesta yang merasuki sampai sel-sel kecilnya. Bisa kita lihat dalam percobaan tumbuhan yang kita tempatkan di ruangan gelap. Ada sedikit saja dia akan tumbuh...