Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2013

Rindu itu kawan

Hukum kekekalan energi ditemukan oleh seorang ahli fisika berkebangsaan Inggris, James Prescott Joule, katanya:   “energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, namun dapat berpindah dari satu bentuk ke bentuk lainnya". Alam semesta ini merupakan energi besar. Kalau kiamat itu berarti musnah. Alam semesta tidak akan kiamat. Makanya uni eropa lebih suka mengurangi pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim daripada nunggu-nunggu kiamat. Mungkin mau cuci dosa karena mereka yang paling banyak bakar-bakaran menggunakan bahan bakar minyak hingga kebakaran jenggot .   Bahwa kemudian orang mensinyalir Einstein ateis, terjawab ketika sang jenius ini berpesan : Saya yakin Tuhan tidak sedang bermain dadu. Semua terencana dan semua ada yang merencanakan. Teori big bang atau ledakan besar asal mula terciptanya alam semesta ternyata juga terukur alias terencana. Artinya kita tak bisa mengabaikan apapun yang tercipta. Apalagi memelintir perasaan terdalam manusia. Salahsatuny

Terlelap Dalam Surga Yang Mengigau

Walau bagaimanapun ada yang lain dari keheningan malam. Mungkin malaikat tidak terlalu sibuk melayani manusia hingga dikala malam bekerja optimal mengantarkan petunjuk. Di malam hari syetan juga wara wiri mencuri kesempatan.  Di dua sisi yang berbeda kedua mahluk ini sama taatnya. Yang satu asek dalam kebenaran yang lain tenar dalam kesalahan. Kesempatan keduanya sama besar, karena tak punya media kecuali manusia.  Itu sebabnya keturunan adam ini diberi pilihan, "Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha" ,  maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Jadi kita tetap harus memilih. Tapi yang jelas malam selalu saja dipakai manusia untuk asek sembunyi. Dari keramaian, mengira tidak ada yang melihat dan merasakan, kepenatan, kebosanan, frustasi dan segala macam pernak-pernik perasaan yang menipu.  Atau ada juga yang memilih berduaan dengan Tuhan dalam kekhusuan tahajud.  Tentu saja manusia bebas memilih walaupun tidak mudah memilih yang terbaik.

Cinta Dalam Sajadahmu

Maka selalu saja kita tertipu oleh rumitnya teori tentang tuhan. Padahal Dia sudah memproklamirkan dirinya lebih dekat dari urat nadi. Walaupun begitu Dia tetap memberikan kita pilihan. Pilihan yang membuat malaikat kecewa kepada kita karena kerap kali kita memilih jalan yang berdarah-darah. Kita seperti sebuah bandul yang diikat tali rahmat. Tali yang berpusat kepada Tuhan. Kadang kita bergerak ke kanan kadang kita bergerak ke kiri. Manakala kita bergerak terlalu ekstrim ke kiri, maka putuslah tali itu. Lalu  Dia penguasa yang memberi kebebasan hampir tak terbatas. Tuan yang ramah karena ketika kita melangkah mendekatinya, Dia akan berlari menyongsong kita. Ketika kita melayaninya maka dia akan melayani kita lebih dari pelayanan kita. Bahkan kalau kita sudah terbukti setia, kita mendapat kepercayaan untuk memegang beberapa kekuasaannya.   Bagi orang-orang terpilih ini kita mengenal kata mujizat. Mau  jadi pelayan tuan yang manalagi?  Tuan yang satu ini terlalu baik dan kay

Dari Mata Yang Kosong

Kematian selalu saja punya efek kesedihan. Biarpun itu sebuah kecelakaan atau pun malah sebuah kesengajaan. Kematian menjelma jadi kehilangan. Sebuah perasaan yang sulit diungkapkan. Campur aduk. Padahal itu dialami oleh semua orang. Namun mahluk berkakidua mampu kreatif  mengekspresikan perasaan itu. Dia menggagas mengirim bunga duka cita. Dia merangkai kata kenangan yang asek didengarkan. Atau dia membuat metafora dengan puisi. Kematian menjadi sarana silaturahmi. Yang jelas tiba-tiba saja kita berada dilangit yang sama dan ingat dengan yang maha kuasa. Apakah karena tragedi yang membuat kita sadar akan adanya kekuasaan hebat tak terduga?  Pertanyaan yang selalu tak terjawab atau seiring waktu terlupakan. Dari Mata Yang Kosong Wajah-wajah itu terpendam dalam langitnya yang bercahaya, membentuk butiran-butiran bening mengalir bersama air gunung Mereka bersayap seperti malaikat beterbangan di surga berloncatan di antara bintang Ow mengapa mataku basah

Setiap potong senyummu

Mencintai sudah dipastikan merindui. Bahkan memberikan inspirasi. Tiada henti. Kata-kata bisa berulah menjadi rayuan gombal. Sebenarnya tak perlu menyerempet bahaya menjadi kebutaan nafsu dan emosi yang terbukti sering kandas. Dia hadir hampir seperti mujizat.  Bukankah kita sedang diajari bagaimana bercinta dengan baik?  Kau tahu aku  sendiri dengan gerbong tua yang patah-patah Lalu serpihannnya ku bungkus dengan selendang Kusematkan pada bulan Maka setiap  purnama kulihat engkau disana masih menaburkan kunang-kunang yang menyinari setiap potong seyummu Tapi dalam selendang itu gerbongku tetap  patah-patah

Merpati

Berapa banyak puisi atau lagu yang menyebut merpati? Tak terhitung. Yang pasti tidak menggambarkan keganasan atau kerusakan. Dan banyak juga dipakai sebagai lambang di logo-logo. Merpati burung yang sukses hidup di seluruh bagian dunia kecuali di antartika. Masuk di Indonesia lewat madura 100 tahun yang lalu.  Merpati burung yang sangat setia terhadap pasangannya. Lambang perdamaian dan kebebasan. Di abad pertengahan merpati merupakan simbol prestise dan dihidangkan kepada tamu istimewa.  Sebelum telegaraf ditemukan teknologi komunikasi menggunakan efektifitas burung ini dalam mengirim kabar. Pada awal abad ke 8 dipakai Yunani untuk mengirim berita tentang juara olimpiade. Abad ke 12 Sultan Nur al-din dari Aleppo yang pertama menggunakan burung merpati untuk mengirim kabar. Lalu digunakan orang romawi untuk memberi informasi kepada pasukan militer. Yang menarik pada abad 44SM, Marcus  Junius Brutus  berhasil mempertahankan kota Modena dalam bahasa latin disebut  Mutina,

Mengapa Kau Menghitung Cinta

Cinta yang kita kenal mungkin saja teramat sederhana. Kalau disebut bodoh karena kita terlalu egois mendaulat kata ini menjadi hanya sebatas hubungan lawan jenis. Lalu kita obral sebagai dagangan nafsu. Lalu cinta hanya seonggok istilah yang mudah diucapkan. Atau kita hanya dipermainkan permukaan laut yang kerap bergelora ketika badai datang saja. Tapi untuk menjadi nakoda yang lihay memang mesti terhempas dulu. Baru kemudian bisa mengukur kekuatan. Mencoba menyelaminya, mencari tahu apa arti riak di permukaan membutuhkan jalan yang panjang. Kita akan terperosok dulu atau memilih tidak bangkit. Kita selalu saja terobsesi dengan tujuan dan tidak begitu hirau dengan proses yang harus kita jalani. Mengapa kau menghitung cinta di atas jalan yang terjal, hingga kau tak mampu merasakan angin dari beribu pucuk cemara? Kaki yang sakit akan mereda saat kau tak memperhatikan lagi angka-angka Tak perlu menepis air mata karena duka ada di setiap hasta Mengapa kau