Setiap potong senyummu

Mencintai sudah dipastikan merindui. Bahkan memberikan inspirasi. Tiada henti. Kata-kata bisa berulah menjadi rayuan gombal. Sebenarnya tak perlu menyerempet bahaya menjadi kebutaan nafsu dan emosi yang terbukti sering kandas. Dia hadir hampir seperti mujizat.


Kau tahu aku  sendiri
dengan gerbong tua yang patah-patah
Lalu serpihannnya ku bungkus dengan selendang
Kusematkan pada bulan

Maka setiap  purnama kulihat engkau disana
masih menaburkan kunang-kunang
yang menyinari
setiap potong seyummu

Tapi dalam selendang itu

gerbongku tetap  patah-patah