Skip to main content

Posts

Sajadah 3

Kesederhanaan menjadi ciri khas penciptaan. Ada proses yang telaten. Tidak seperti sihir yang ajaib hanya cukup mengucapkan abrakadabra. Padahal sang pencipta memiliki dan bisa segalanya. Dia berhak atas kesombongan. Tapi itu tak pernah terlihat, tak pernah dia vulgar menyulap sebuah perubahan dengan cepat. Proses adalah sebuah kesederhanaan yang nyata. Dia ingin contohkan pada mahluk yang paling dia cintai. Sajadah 3 Dalam sajadah yang kau bentangkan sampai ke langit itu kau ukirkan kaligrafimu yang megah Dengan apa aku harus melukisnya Namun mengapa kau begitu bersahaja memilih lebih dekat dari urat nadiku? Oh, maha jagad semesta rantailah aku dalam linangan air mata agar aku tak menjadi buta 3 April 2012

Insomnia 3

Meskipun kematian itu pasti, tapi rata-rata manusia takut mati. Bisa karena merasa masih banyak dosa atau hidup sudah nyaman dan berkecukupan seperti di syurga, hingga enggan untuk melepaskannya. Saking takutnya pada kematian, kuburan itu jadi tempat yang menyeramkan. Apalagi ada keterangan siksa kubur  Insomnia 3 Malam diam –diam merubah angka pada tulang kita, sobat, Tapi ketika terbangun kita sibuk menambah angka di pundak kita Oooh, ternyata kita masih bermimpi, dalam tidur yang nestapa 3 April 2012 

Dulu Aku Melihat Kau

Kerap kita tak mengerti dengan cinta. Karena bisa digunakan secara serampangan. Oleh yang benar-benar mencinta dan harus semaput karena dikecewakan. Atau oleh yang berpindah cinta dengan alasan yang di ada-adakan. Bahkan digunakan oleh yang sedang berkuasa untuk memulai sebuah perang. Cinta alasan paling kuat untuk mulai membangun atau merusak segalanya. Anekdot kalau cinta itu buta bukan saja jadi bahan candaan, tapi diam-diam dialami oleh kita. Cinta menjadi universal. Tinggal kita mau mendefinisikannya seperti apa.  Dulu Aku Melihat Kau Dulu aku melihat kau dengan segenap tulisan hatiku Lalu kubacakan dalam diam Kubiarkan kau seperti kupu-kupu  dengan bunga-bunga mekar di sekelilingmu Tapi yang kutahu kau menghilang dalam hening Lalu kutunggu kau di tengah bunga-bunga mekar sampai kulihat kembali sayap-sayapmu Mengapa kau datang dari lorong yang tak kukenal ujungnya 1 April 2012  Kau 1 Kau 2 Kau 3 Masihkah Kau Mengerti Pernahkah Kau

Mengetuk Cinta di Pintumu

Ternyata Penciptaan saja tak berhenti. Rosul sangat hebat dalam merefleksikan keyakinan ini. Bukankah dia tidak berhenti sholat ketika telah dijamin masuk syurga dan terbebas dari kesalahan? Atau ada yang terlewatkan saat kita jauh dari beliau dan hidup di jaman instan? Kita jadi menyukai pertandingan final dan berhenti saat menjadi juara? Dalam segala hal ketentuan Tuhan berlaku. Cinta pada pasangan kita tentu tak berhenti di pernikahan, tapi sedang berada dalam proses penciptaan. Kesempurnaan berada telak dalam konsistensi perjuangan untuk membuatnya indah dalam kondisi apapun. Maka cinta menjadi indah saat begitu banyak bekas luka. Kau telah lelah mengayuh cinta menahan ombak yang tak berhenti meludahiku Cinta tak pernah berhenti, kekasih karena dulu tempatku berlari ketika orang-orang melukai punggungku dan aku selalu mengetuk cinta di pintumu 27 Maret 2012

Tempat Matahari Bertahta

Tuhan memulai kita dengan ketidaksadaran, ketidaktahuan, tak bisa berbuat apa-apa selain mengeluarkan suara: menjerit dan menangis. Tapi ibu dan bapak kita tahu apa arti suara itu.  Kemudian ibu dan bapak kita memberi kita nama, mengenalkan hal-hal sederhana yang menurut mereka sesuai dengan kemampuan kita. Nabi Isa bisa bicara untuk mengatakan bahwa ibunya tidak berzinah hanya saat genting saja. Setelah itu bayi Isa beranjak normal dan tumbuh seperti kita. Maka kemudian kita menemukan cara mendidik anak di masa kolonial dan di zaman milenial berbeda. Padahal keduanya sama tentang rasa sayang kedua orantua kepada anaknya. Cara manusia tumbuh dan kebiasaan di sekitarnya ternyata mengalami perubahan setiap waktu. Kita melihatnya sebagai kemajuan. Tercipta menuju sempurna. Di suatu masa kita bisa menganggap itu hal yang sudah sempurna. Ternyata di masa datang hal  itu sudah usang. Kita dan keadaan ini nyata sedang dalam perjalanan. Kita menyaksikan sendiri bukti-buktinya. Dulu orang berk

Sajadah2

Sajadah yang kau bentangkan itu tak pernah reda, menyerap air mata melelapkanku dalam sujud alam semesta Ceritakanlah duka, ceritakanlah lara, wahai sang pertapa tanpa harus berkata-kata Sajadah 1

Sajadah 1

Yakin kah atheis itu orang yang tidak percaya kepada tuhan? Atau sebenarnya orang yang meniadakan tuhan? Mending mana dengan orang yang percaya kepada tuhan tapi membayangkan tuhan sedang duduk di singgasana nun jauh di langit? Kata orang sufi, "Bertahun-tahun aku mencari tuhan tapi tidak menemukan diri sendiri. Ketika aku menemukan diri sendiri aku bertemu tuhan". Kanjeng Rosul menghargai orang-orang yang setiap hari berada di serambi mesjid ini dengan mengatakan, "Seandainya aku bukan diutus sebagai rosul maka akan aku tancapkan pandanganku ke langit. Sampai tuhan mengambil hidupku". Kenikmatan seperti itu tentu tidak akan didapatkan kalau kita masih mengukurnya dengan standarisasi dunia. Bahkan perasaan saja hanya bisa menjangkau secuil saja tentang keberadaannya. Itu juga terjadi manakala kita mendapat prahara. Meski kita tidak menyebut tuhan, kita tetap tahu ada yang lebih berkuasa. Sajadah 1 Dimanakah sajadah yang kau bentangkan ke langit i