Belantara Tak Terkira

Kekuatan rakyat selalu gamblang, mudah terprovokasi, eporia, dan bisa cepat merubah keadaan. Namun sangat lengah. Seorang penulis puisi bisa miris mengamatinya.
Kebenaran dalam obsesinya menjadi bergejolak. Mungkin ini yang dialami Chairil Anwar dan teman seangkatannya. Mereka kadung dalam penggunaan bahasa yang halus, tapi gemas untuk menegaskan posisi kenyataan.
Mereka harus tetap menuliskannya.

Riuh rendah yang bersuara
sama itu menjadi belantara tak terkira
Pemangsa dan yang dimangsa sama-sama meneriakkan reformasi
Lalu semak belukar perubahan menjadi dingding mengerikan
Disitu pemangsa mengintip,
bersalin rupa
berbulu ayam
berdasi
bersurban
bergincu
macho
Sibuk mengajarkan nyanyian,
bagimu negeri , jiwa raga kami
Iblis ini memperkosa demokrasi
Bahkan tak segan memperjual belikannya

Posting Komentar