Cinta di Titik-titik Salju



Yang paling optimis ketika kita membicarakan penciptaan adalah gerakannya yang dinamis. Sifat – sifat tuhan tertera jelas disini, menciptakan dan menyempurnakan. Manakala ini dinisbatkan pada manusia, maka tak ayal lagi, mahluk berkaki dua yang disebut khalifah oleh Tuhan ini, mengalami proses yang sama. ketika dia beranjak tua keberanian menemukan kekuatannya. Dia tidak lagi imut-imut dalam menjaga image, dia bahkan berubah menjadi mahluk yang tanpa tedeng aling-aling untuk membuka seluruh isi hatinya yang sempat terpendam ketika muda. Walhasil dinamika seperti ini sangat mengusik untuk dijadikan catatan kaki puisi di bawah ini,



Ternyata kau pernah menuliskan cinta di titik-titik salju,
yang tak terbaca sang pertapa

Katamu diam bisa jadi sebuah bahasa,
yang jatuh dari syurga

Sayang tak bisa membangunkan sang pertapa

Sampai kau sanggup merangkai kata-kata cinta dalam sekuntum bunga

Kau tancapkan tepat di dada sang pertapa