Iwan Simatupang


Pertama kali berkenalan dengan Iwan Simatupang tentunya lewat salah satu karyanya. Merahnya Merah. Novel yang  mendapat hadiah sastra Nasional 1970 ini bagi saya sangat dasyat. Awalnya aneh ada novel dengan penyampaian yang bernas, namun seperti mengoceh. Heranya saya makin penasaran membacanya. Bahkan pikiran – pikiran saya sepertinya dipertemukan dengan keinginan menulis dengan gaya bebas. Tidak terpenjara tata bahasa, tidak terjerat kata – kata yang indah. Tapi sarat dengan kekuatan emosi yang bisa membuat pembaca larut dan mengerti pengalaman batin si penulis. Karena seburuk apapun pengalaman yang mampu dituangkan dengan tulisan tetap sebuah hasil perenungan.

Iwan tidak rumit terjerembab dalam penokohan dewa dewi seperti cerita sinetron. Dia telah jauh merambah langitnya Jaya Baya. Seorang tokoh ideal tidak harus sempurna fisiknya tapi punya kekayaan batin bak malaikat turun ke bumi. Tokoh kita yang menjadi sentral cerita dalam novel merahnya merah dibiarkannya melaut dengan segala macam nafsu dan kekuatan kebenaran. Dia seperti hakim yang tak perlu menjatuhkan vonis untuk terdakwa.


Kalau boleh memberi saran pada  para penulis. Anda harus berkenalan dengan almarhum. Dia tidak konvensional.