Berikan



Bahwa manusia itu mahluk sosial bukanlah wacana lagi dan tak perlu harus intelek untuk memahaminya. Dia jelas memerlukan kawan karib yang bisa membahas apa saja, bahkan teritorial yang paling auratpun. Atau dia butuh kawan yang lebih pribadi sehingga dia tak sungkan untuk telanjang, karena tahu karibnya akan menutup rapat auratnya itu.
Manusia menjadi rilek ketika berkumpul dengan sesamanya yang sepikiran. Rindu, cinta dan semangat bisa lahir bak banjir bandang dalam kesempatan itu. Pertemuan itu yang diingini puisi di bawah ini,
 


Tuhan, berikan setetes saja kebersamaan itu
agar kami tahu sedang sama-sama mengalir

Tuhan, berikan setapak saja langkah itu
agar kami mengerti punya satu tujuan

Tuhan, berikan kami sebatang kayu saja
agar kami bisa berlayar dalam satu perahu

Tuhan hentikan kami sejenak di stasiun yang sama

di tempat kami dulu bercanda