Mochtar Lubis






Kalau seorang jurnalis harus diuji tentang obyektifitasnya, maka Mochtar Lubis harus sudah lulus. Dua rezim yang memegang peran dalam sejarah transisi Indonesia memenjarakannya. Di jaman presiden Soekarno Mochtar Lubis dipenjara selama 10 tahun karena menulis “ Indonesia di Mata Dunia”, tulisan yang  menceritakan duta-duta besar Indonesia yang kerjanya hanya berfoya-foya saja. Di jaman pemerintahan presiden Soeharto Mochtar lubis lewat koran yang dipimpinnya “Indonesia Raya” membongkar kasus korupsi di tubuh pertamina. Walhasil si kepala granit ini harus kembali di penjara tanpa pengadilan.

Terbayang kalau seorang pribadi yang bernas dan lugas juga seorang satrawan. Mochtar Lubis adalah penerima penghargaan sastra baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sangat menarik kalau kita ingin menikmati sebuah karya sastra dari seorang jurnalis. Tidak ada bahasa yang tersembunyi seperti halnya juga dia menulis berita.


Ketika dipenjara dia menolak kompromi yang ditawarkan pemerintahan orde baru dengan alasan malu kepada para pejuang yang telah mengorbankan jiwa raganya untuk kemerdekaan Indonesia. Maka Mochtar Lubis rela mengorbankan harian Indonesia Raya yang dipimpinnya untuk kemerdekaan pers. Penjara terlalu sederhana untuk membungkam seseorang yang merdeka.