Sejengkal Cinta



Tanpa disadari kita sedang tidak adil menggambarkan cinta, karena masih terbatas mempersoalkannya dalam hubungan lawan jenis yang tak ayal lagi hanya berujung birahi. Maka sangat wajar kalau kita sering syouk menghadapi bencana. Atau yang paling sederhana kita tak tega untuk menindak tegas orang yang kita cintai. Cinta selalu saja kita konotasikan dengan memberikan toleransi pada kesalahan. Kita takut mengaplikasikan cinta dalam bentuk yang lebih keras, bahkan sebuah teguran saja tak mampu kita lakukan. 

Padahal cinta Tuhan sering seperti sadis, memberi bencana pada mahluknya. Mudah-mudahan ini menjadi kerangka untuk puisi di bawah ini.


dalam tidur ada kepastian yang tertunda

hidup ternyata sebuah penantian yang purba
berderai dalam haribaan yang kuasa

jangan berhenti mengayuh, duhai sang pengembara
lautanmu hanya sejengkal cinta
dan pelabuhan ada di setiap duka